Danantara dan MIND ID Perkuat Hilirisasi Bauksit untuk Industrialisasi Nasional

Jumat, 20 Februari 2026 | 09:26:00 WIB
Danantara dan MIND ID Perkuat Hilirisasi Bauksit untuk Industrialisasi Nasional

JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus mempertegas langkah dalam memperkuat hilirisasi bauksit sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional dan penguatan industri berbasis sumber daya alam. 

Melalui kolaborasi antara Danantara Indonesia dan MIND ID, sejumlah proyek strategis yang menjadi prioritas dalam pengembangan rantai nilai bauksit–alumina–aluminium disiapkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dalam negeri. Langkah ini dipandang sebagai instrumen penting untuk mewujudkan industrialisasi yang berkelanjutan dengan basis sumber daya lokal yang kuat.

Kekuatan Sumber Daya Bauksit Indonesia

Indonesia dikenal kaya akan sumber daya bauksit, dengan cadangan besar yang tersebar di wilayah nasional. Menurut data Badan Geologi Kementerian ESDM, sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,48 miliar ton dan cadangan sekitar 2,78 miliar ton. Jumlah ini menjadikan komoditas bauksit sebagai salah satu aset strategis dalam pembangunan industri aluminium nasional yang berkelanjutan. Di tengah kebijakan hilirisasi yang semakin diperkuat, potensi ini dimaksimalkan melalui investasi dan pembangunan fasilitas pengolahan.

Regulasi terkait hilirisasi bauksit telah diperkuat dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang menekankan pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri serta pelarangan ekspor bahan mentah. Kebijakan ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan kapasitas industri pengolahan sumber daya mineral agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi di pasar domestik maupun global.

Strategi Hilirisasi dan Proyek Prioritas

CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani menjelaskan bahwa program hilirisasi bauksit menjadi bagian dari prioritas nasional yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Untuk bauksit sendiri, investasi yang akan disiapkan mencapai nilai lebih dari Rp53,1 triliun pada 2025. Proyek-proyek ini telah memasuki fase pelaksanaan awal, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina serta konversi alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 telah dibangun dan beroperasi dengan nilai investasi mencapai Rp16,7 triliun. Fasilitas ini mampu mengolah bijih bauksit menjadi alumina dengan kapasitas produksi hingga 1 juta ton per tahun. Produk alumina yang dihasilkan kemudian disuplai untuk kebutuhan smelter aluminium yang dikelola oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), bagian dari grup MIND ID.

Selain itu, pembangunan SGAR Fase 2 dengan investasi sekitar Rp14,8 triliun juga sedang digarap dengan kapasitas produksi tambahan 1 juta ton alumina per tahun. Dengan total kapasitas potensial mencapai 2 juta ton per tahun, ketersediaan alumina di dalam negeri diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium nasional tanpa tergantung pada impor.

Dampak Ekonomi dan Industri Terintegrasi

Transformasi dari bauksit mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti alumina dan aluminium menunjukkan peningkatan nilai yang signifikan. Secara ekonomi, nilai bauksit mentah yang hanya sekitar USD 40 per ton bisa meningkat menjadi USD 400 setelah diolah menjadi alumina, dan kembali meningkat hingga USD 2.800 ketika telah menjadi aluminium jadi. Skema hilirisasi ini diproyeksikan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya serta memperkuat ketahanan industri nasional.

Pengembangan rantai nilai hilirisasi ini tidak hanya memperkuat industri primer, namun juga berdampak luas terhadap penciptaan lapangan kerja dan multiplier effect di sektor ekonomi lainnya. Dengan rantai pasok yang mulai terintegrasi dari hulu hingga hilir, kebutuhan domestik terhadap bahan baku industri aluminium dapat dipenuhi secara mandiri, sekaligus mengurangi ketergantungan impor produk pengolahan.

Kemandirian Industri dan Tantangan ke Depan

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan bahwa perluasan kapasitas produksi aluminium dan fasilitas pengolahan merupakan wujud nyata komitmen Indonesia untuk memperkuat kedaulatan industri mineral. Dengan memperkuat integrasi pengolahan bauksit–alumina–aluminium di dalam negeri, negara tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi tetapi juga memperkuat ketahanan industri terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Namun, pembangunan fasilitas ini juga menghadapi tantangan dalam hal pembiayaan, teknologi, serta kebutuhan tenaga kerja terampil. Menyikapi hal ini, sinergi antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis dari sektor swasta menjadi kunci untuk menjamin keberhasilan proyek hilirisasi. Dukungan kebijakan yang konsisten juga menjadi faktor penting dalam mempercepat realisasi pembangunan industri hilir mineral yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, langkah strategis yang diambil oleh Danantara Indonesia bersama dengan MIND ID menunjukkan arah baru dalam pengelolaan sumber daya alam yang lebih berdaya guna. Dengan mengubah pola ekspor bahan mentah menjadi pengembangan industri pengolahan dalam negeri, Indonesia semakin mendekatkan diri pada tujuan pembangunan ekonomi yang modern, inklusif, dan mandiri.

Terkini